
Shinjuku (riauoke.com) – Ada banyak hal mengesankan yang tersisa di kepala setiap kali berbicara tentang Jepang. Sebuah kenyamanan dan keteraturan yang membuat siapa pun berharap, suatu hari nanti pemandangan serupa bisa kita temui pula di sudut-sudut Kota Pekanbaru. Bukan hanya terbatas di kompleks perusahaan besar atau perumahan sistem cluster, melainkan merata di seluruh penjuru kota.
Salah satu aspek yang paling mencolok dari negeri Sakura ini adalah soal sistem keamaannya. Di Jepang, kamera pengawas (CCTV) terserak di mana-mana, memantau setiap jengkal kota. Jangan harap bisa melanggar aturan tanpa ketahuan. Membuang sampah non-organik di hari yang salah atau di tempat yang tidak sesuai pada tengah malam sekalipun, akan dengan mudah terdeteksi. Tak ada tempat untuk bersembunyi, bahkan untuk urusan sekecil buang sampah.
Namun, yang jauh lebih mencengangkan adalah kondisi rumah-rumah di sana.
Sistem keluarga di Jepang umumnya hanya terdiri dari orang tua dan anak yang masih dalam tanggungan. Begitu sang anak mulai mampu mencari uang sendiri, mereka biasanya akan memisahkan diri dari orang tua untuk menyewa apartemen kecil secara mandiri.
Tingginya harga tanah di Jepang membuat kepemilikan hunian menjadi hal yang sangat eksklusif, di mana hak milik rumah umumnya hanya didominasi oleh penduduk asli permanen. Karena keterbatasan lahan tersebut, warga membeli tanah dengan kaplingan kecil dan membangun rumah hampir memenuhi seluruh lahan. Rata-rata luas hunian di sana hanya berkisar 108 meter persegi, dengan harga paling rendah jika dirupiahkan mencapai Rp1,7 miliar.