
Untuk menyiasati keterbatasan lahan, rumah-rumah di Jepang umumnya dibangun bertingkat menggunakan material kayu dan asbes yang dirancang khusus agar tahan gempa. Lantai dasar biasanya difungsikan sebagai ruang tamu, ruang keluarga, dapur, dan ruang servis. Sementara lantai dua terdiri dari beberapa kamar yang khusus digunakan untuk beristirahat.
Uniknya, rata-rata rumah di Jepang menggunakan pintu geser dan tidak dikunci. Ya, siang dan malam rumah kerap ditinggal begitu saja dalam keadaan tidak terkunci!
Inilah hal yang sering saya khayalkan bisa terjadi suatu hari nanti di Pekanbaru. Karena kamera pengawas berada di mana-mana dan gerak-gerik warga asing dipantau dengan sangat ketat, warga Jepang tidak perlu merasa khawatir rumah mereka akan dimasuki oleh orang tak dikenal.
Kondisi lingkungan yang aman ini menjadi krusial mengingat masyarakat Jepang dikenal sebagai penikmat kerja (workaholic). Sejak pukul enam pagi, mereka sudah bergegas pergi bekerja dan meninggalkan rumah dalam keadaan kosong. Mereka baru kembali ke rumah sekitar pukul tujuh atau delapan malam karena umumnya harus mengambil kerja lembur di perusahaan masing-masing.
Hal yang sama juga dirasakan oleh para mahasiswa dan pekerja asal Indonesia yang menetap di sana. Mereka umumnya tinggal di apartemen kecil dengan ruang-ruang yang cenderung sempit demi menyesuaikan dengan isi kantong.