
Kepada keluarga para penjaga perdamaian, Jenderal Abagnara menyampaikan: “Tidak ada kata-kata yang dapat menghapus rasa duka Anda. Namun ketahuilah, mereka tidak akan dilupakan. Mereka akan tetap menjadi bagian dari misi ini, bagian dari kita semua.”
Kopral Farizal Rhomadhon, 28 tahun, gugur secara tragis pada Minggu, 29 Maret 2026, ketika sebuah proyektil meledak di posisi UNIFIL dekat Adchit Al Qusayr. Seorang penjaga perdamaian lainnya mengalami luka kritis.
Dalam insiden tragis lainnya, Mayor Zulmi Aditya Iskandar, 33 tahun, dan Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan, 26 tahun, gugur pada Senin, 30 Maret 2026, ketika sebuah ledakan di pinggir jalan menghancurkan kendaraan mereka di dekat Bani Hayyan. Seorang penjaga perdamaian lainnya mengalami luka berat, dan satu lainnya juga terluka.
Insiden-insiden ini masih dalam penyelidikan.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mengutuk peristiwa yang merenggut nyawa tiga penjaga perdamaian tersebut, dan dengan tegas mendesak semua pihak untuk memenuhi kewajiban mereka berdasarkan hukum internasional serta menjamin keselamatan dan keamanan personel dan aset PBB setiap saat. Sekretaris Jenderal juga menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh laki-laki dan perempuan pemberani yang bertugas bersama UNIFIL.